Senin, 03 Juni 2019

Manusia dan Kegelisahan


A.  Pengertian kegelisahan
Kegelisahan berasal dari kata gelisah. Gelisah artinya rasa yang tidak tentram di hati atau merasa selalu khawatir, tidakdapat tenang (tidurnya), tidak sabar lagi (menanti), cemas, dan sebagainya. Kegelisahan artinya perasaan gelisah, khawatir, cemas atau takut. Manusia yang gelisah selalu di hantui rasa khawatir atau takut.
Suatu saat dalam hidupnya, seorang akan mengalami kegelisahan. Kegelisahan ini, apabila cukup lama dirasakan oleh seseorang, akan menyebabkan gangguan penyakit. Kegelisahan (anciety) yang cukup lama akan menghilangkan kemampuan untuk merasa bahagia.[1]
Tentang kecemasan ini, Sigmund Freund membedakan menjadi tiga macam yaitu :
1.      Kecemasan objektif (kenyataan)
Suatu bahaya dalam dunia luar.
2.      Kecemasan neurotik (syaraf)
Kecemasan yang timbul karena pengamatan tentang bahaya yang naluriah.
Menurut Sigmund Freud kecemasan ini dibagi tiga macam yaitu; kecemasan yang timbul karena penyesuaian diri dengan lingkungan, bentuk ketakutan yang irasional (phobia) dan rasa takut lain karena gugup, gagap dan sebagainya.
3.      Kecemasan moral
disebabkan karena pribadi seseorang. Menurut Sigmund Freud kecemasan ini dibagi tiga macam yakni; kecemasan yang timbul karena penyesuaian diri dengan lingkungan, bentuk ketakutan yang irasional (phobia) dan rasa takut lain karena gugup, gagap dan sebagainya.[2]


B. Sebab sebab orang gelisah
Sebab- sebab orang gelisah adalah pada hakikatnya orang takut kehilangan hak-haknya. Hal itu akibat dari suatu ancaman, baik ancaman dari luar maupun dari dalam.
Contoh:
Bila ada suatu tanda bahaya (bahaya banjir, gunung meletus, atau perampokan), orang tentu akan gelisah. Hal ini disebabkan adanya bahaya mengancam akan hilangnya beberapa hak orang sekaligus, misalnya hak hidup, hak memperoleh perlindungan dan sebagainya.[3]
C. Usaha-usaha mengatasi kegelisahan
Dalam mengatasi kegelisahan, pertama-tama harus di mulai dari diri kita sendiri, yaitu bersikap tenang. Dengan sikap tenang, kita dapat berfikir tenang dan segala kesulitan dapat kita atasi. Dengan ketenangan ini, orang yang mengancam kita mungkin akan mengurungkan niatnya.
Untuk mengatasi kegelisahan, yang paling ampuh adalah memasrahkan diri kepada tuhan. Kita pasrahkan nasib kita sepenuhnya kepada-Nya. Kita harus percaya bahwa tuhan-lah maha kuasa, maha pengasih dan maha penyayang, dan maha pengampun.[4]
Untuk menghadapi kegelisahan biasanya dengan menggunakan sikap positif yang bisa berlaku umum. Ini akan berwujud tindakan-tindakan yang sangat dianjurkan yaitu meliputi:
1.      Hadapi dan rencanakan segala kemungkinan problem yang timbul dan sikap yang dibayangkan akan terjadi, sampai pada yang sejelek mungkin.
2.      Susunlah persiapan cara-cara menghadapinya beserta pemecahannya.
3.      Mendeteksi sebanyak mungkin tentang hal-hal yang menyebabkan gelisah termasuk didalamnya, sebab-sebab dan problemanya.
4.      Hadapilah dengan tabah kegelisahan berserta sebab-sebab dan problemanya dan bersiap sedia.
5.      Jika mampu meskipun mungkin tidak dapat secara spontan hilangkanlah sebab-sebab kegelisahan yang ada.
6.      Ajaklah orang lain bekerja sama dalam mengatasi kegelisahan ini paling tidak untuk ikut memikirkan atau memberi perhatian atau memahami keadaan saudara.
Dari keenam jalan yang tersebut di atas itu bagi penderita tentu tak bisa dengan terang atau pas dalam melaksanaka kecuali jika kegelisahannya telah berhenti. Jadi memang harus ada orang lain yang mau membantunya

D. Apa dan mengapa gelisah

Kegelisahan bisa dikatakan sebagai rasa tidak tentram, rasa selalu khawatir, rasa tidak tenang, rasa tidak sabar, cemas, dan semacamnya. Yang jelas kegelisahan berkaitan dengan rasa yang berkembang dalam diri manusia.
Dari dua ilustrasi pada awal bab ini, kita bisa memahami bahwa kegelisahan merupakan bagian hidup manusia. Tiap manusia, dengan tidak mempedulikan latar belakang dan kemampuannya, pasti akan mengalami kegelisahan, sebentar atau lama, ringan ataupun berat. Ini dirasakan wajar mengingat manusia mempunyai hati dan perasaan.
Sebagai fenomena universal, artinya mendera manusia mana pun, kegelisahan bisa muncul akibat faktor penyebab yang berbeda-beda. Dengan meminjam teori Sigmund Freud, secara khusus ia berbicara tentang kecemasan, kita bisa melihat adanya tiga macam kegelisahan (baca: kecemasan), yaitu objektif, neurotik, dan moral. Yang pertama, objektif , bersumber pada suatu kekuatan yang ada di luar diri manusia. Kegelisahan semacam ini bisa muncul dari antisipasi seseorang, dengan berdasarkan kepada pengalaman perasaannya, terhadap kemungkinan adanya bahaya yang mengganggu dirinya.
Yang kedua, yaitu heurotik, dalam satu dan lain kasus, lebih disebabkan oleh bisikan naluri seseorang. Kegelisahan ini bisa saja di ambil akibat munculnya rasa takut tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya, muncul rasa takut yang rasional atau fobia, dan kecenderungan seorang untuk selalu gugup atau tergagap dalam menyikapi sesuatu persoalan yang dihadapi.
Yang ketiga, kegelisahan moral biasanya diakibatkan oleh munculnya perasaan bersalah atau malu yang sebenarnya dapat dikendalikan oleh hati nuraninya, jadi kegelisahan moral bersumber pada struktur keperibadian seseorang.[5]

E.  Faktor Penyebab Kegelisahan
Pada prinsipnya manusia merupakan mahluk hidup yang diarahkan oleh motivasi dan cita-citanya. Hampir semua tingkah laku manusia dapat dipandang sebagai usaha untuk memuaskan hasrat biologis mereka. Tetapi tujuan itu sering sulit atau bahkan kemungkinan kecil untuk di capai. Oleh sebab itu kegelisahan dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:
1. Lalai dalam Mengingat Allah
Dalam beberapa hadits dan riwayat Shahih disebutkan bahwa kegelisahan dalam keadaan tertentu akan muncul sebagai akibat kelalaian seseorang dalam mengingat Allah. Dalam berpaling dari (mencari) hikmah-Nya, mengentengkan perintah serta larangan-Nya. Terkadang kegelisahan dapat muncul dari godaan setan yang dapat mengguncangkan  jiwa.
Seseorang yang hatinya bersih dan yakin kepada Allah tidak akan terkena penyakit ini, kecuali bila menderita cacat atau penyakit tertentu. Dari sudut pandang agama, mengingat Allah ibarat benteng kuat dan baju besi yang melindungi manusia dari berbagai macam bahaya, seperti penyakit kejiwaan. Sebagaimana juga dapat menjadikannya sebagai pijakan dalam proses pengobatannya. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa kegelisahan bisa muncul sebagai akibat perbuatan haram dan mungkar, sebaliknya mencari perlindungan Allah dapat mencegah seseorang dari dampak negatifnya.
2. Cinta Diri
Kecintaan seseorang terhadap dirinya merupakan hal yang wajar, namun sebagian orang telah berlebihan dalam mempertahankan cinta tersebut sehingga terbebani dengan berbagai macam penderitaan dan rasa sakit. Dalam pembahasan ini, yang dimaksud cinta diri adalah kecintaan yang melampaui batas. Dapat berupa perhatian berlebihan terhadap diri sendiri serta sangat sensitif terhadap segala hal yang berkaitan dengan itu, sehingga tidak mendapati musibah yang lebih parah dari penyakit tersebut.
Perhatian yang berlebihan terhadap diri akan menyebabkan munculnya keinginan buruk dalam diri seseorang, seperti ingin meraih kecintaan dari semua manusia, mengharapkan kehadiran mereka dengan patuh, dan mau melaksanakan perintahnya secara keseluruhan demi memperoleh  kerelaannya.
3. Gejolak Hati
Terkadang kegelisahan muncul dalam keadaan tertentu lantaran kegalauan hati yang sangat keras akan hal-hal yang spele dan remeh. Ketika seseorang tidak mendapatkan sesuatu yang dapat menyibukkan dirinya, seseorang tersebut akan memikirkan problem dan khayalan sia-sia, sehingga sering kali hal itu menyeretnya kedalam kubangan kegelisahan. Misalnya seorang anak kecil megotori badannya, maka akan ada guncangan jiwa lantaran takut akan hukuman dari ibunya dengan cara mencuci kotoran tersebut berulang kali. Dari pengulangan itu memberikan kemungkinan muncul pemikiran yang disertai perasaan gelisah.
4. Rasa Takut dan Malu
Sifat malu merupakan salah satu diantara faktor penyebab kegelisahan, sebab seorang pemalu adalah orang yang takut sehingga hanya berdiam diri. Hal ini banyak terjadi pada masa kecil seseorang yang mendapatkan pelecehan dan perlakuan keras, sehingga pada masa dewasanya tidak mampu menghadapi problem yang sangat besar dan menyelesaikannya secara benar.
Permasalahn Ini menunjukkan bahwa seorang pemalu akan berusaha dengan berbagai macam cara untuk melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya agar tidak menjadi bahan penilaian dan cemoohan orang lain. Inilah yang mendorongnya melakukan pekerjaan secara berulang agar dapat menyelesaikannya sebaik mungkin, yang pada akhirnya menjerumuskannya kedalam kegelisahan.
 5. Keadaan Fisik
Seseorang yang pernah mendengar bayi menagis meminta air susu ataupun karena kesakitan akan tahu bahwa kegelisahan, kekhawatiran memegang peran dalam kehidupan bayi. Pengalaman yang didapat bayi dalam menghadapi kegelisahan, kekhawatiran, dan ketakutan ini akan berpengaruh pada masa selanjutnya, baik pada level sadar maupun tidak sadar. Pada masa dewasa ketidakmampuan fisik bukan merupakan sumber kegelisahan yang pokok, kecuali pada masa epidemi, banjir, gempa bumi, dan bencana lainnya. Dengan adanya kemajuan di bidang kedokteran, meteorologi, dan geofisika, kegelisahan yang ditimbulkan sumber ini dapat semakin dikurangi.
Kegelisahan dan kekhawatiran yang di timbulkan oleh sebab-sebab fisik tentu saja harus menghinggapi orang yang mempunyai cacat fisik seperti kebutaan, kelumpuhan, ketulian, dan sebagainya. Pada masa tua, keterbatasan fisik menjadi penyabab utama dari kegelisahan manusia. Kekuatan, pancaindera, potensi, dan kapasitas intelektuan mulai turun pada tahap-tahap tertentu, dan sekali lagi orang-orang usia lanjut harus menyesuaikan diri kembali dengan ketidakberdayaannya. Kegelisahan akan semakin menjadi-jadi jika orang usia lanjut masih menginginkan sesuatu atau motif-motif seperti saat berusia muda. Tragedi yang selalu dapat ditemui pada orang tua, ialah bahwa bukan karena menjadi tua, sebab ini adalah proses alami yang tak dapat dihindari, tetapi karena adanya ketidaksiapan perubahan peran, sikap dan motuf-motif pada saat usia semakin tua.
6. Lingkungan Sosial
Sumber kegelisahan manusia ikut berubah sebagai mana perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Manusia satu dengan lainnya saling bergantung satu sama lain, sehingga jika orang satu dengan lainnya tidak dapat saling memberi seperti yang diharapkan, maka hal ini dapat menjadi sumber kegelisahan. Manusia akan membutuhkan orang lain dalam hal status sosial, cinta kasih, rangsangan intelektual, dan sebagainya.
Motif-motif sosial akan selalu berubah, tergantung pada orang lain yang terkadang menghalanginya dengan berbagai hal dan motif.

7. Motif yang bertentangan
Sumber kegelisahan yang paling rumit ialah pertentangan antara dua motif atau lebih hakikat, dimana harus mengorbankan motif lain yang ia miliki. Kadang-kadang ini muncul karena keterbatasan jumlah keinginan yang dapat di capai pada suatu saat., sebab motif-motif dapat muncul secara bersamaan dan membutuhkan cara-cara yang berbeda untuk mencapainya. Sebagai contoh kita tak dapat menelpon dua orang pada saat yang bersamaan, atau juga seorang pemuda tidak dapat membawa dua orang gadis cantik yang dipacarinya menonton kebioskop. Konflik yang lebih rumit lagi terjadi jika pencapaian suatu motif harus mengorbankan motif yang lainnya. Seorang pemuda yang mempunyai minat yang sangat besar terhadap ilmu kedokteran dan musik sekaligus akan mengalami konflik yang akan menjadi sebab kegeliahannya. Jika ia ingin menjadi dokter yang baik ia harus meninggalkan cita-citanya sebagai musikus yang profesional, dan demikian juga sebaliknya. Kegelisahan ini akan berlangsung lama dan bukan hanya
Konflik yang lebih sulit lagi ialah jika pemuasan terhadap salah satu motif malah menguatkan motif yang bertentangan. Kita akan melihat contoh sebagai berikut. Seorang gadis yang mempunyai motivasi kuat untuk menjadi seorang yang sangat bermoral tetapi ia terlibat percintaan dengan pemuda yang kelihatan nya kurang bertanggungjawab. Untuk waktu yang lama ia berusaha keras untuk tidak berhubungan lebih intim lagi dengan pemuda itu karena motivasi moralnya yang kuat, tetapi dengan demikian ia mengorbankan keinginannya untuk berhubungan lebih erat dengan lawan jenisnya. Jika ia ingin memuaskan keinginannya yang terakhir ini ia akan mengorbankan cita-citanya yang telah ia dapatkan dengan susah payah. Pertentangan motif seperti ini akan menimbulkan kegelisahan dalam jangka waktu yang lama.
Konflik keinginan yang menimbulkan kegelisahan hidup manusia adalah hal yang tak terhindarkan, sebab manusia merupakan bentuk organisme yang di anugrahkan dengan keinginan yang multi komplek. Dalam abad modern macam ini selalu muncul keinginan-keinginan yang kontradiktoris. Keinginan sebagai makhluk bermoral tetapi juga ingin hal-hal yang bersifat keduniaan wian sering terjadi. Dalam dunia perguruan tinggi, mahasiswa ingin memperoleh nilai tinggi yang mengakibatkannya harus belajar keras dan godaan untuk berlaku santai  maupun kegiatan bermasyarakat yang ingin diterjuninya membawa konflik dan sekaligus kegelisahan.


[1] Drs. H. Ahmad Mustofa, Ilmu Budaya Dasar, Pustaka Setia, (Bandung 1998), hal 144
[2] Ibid, hal 144-147
[3] Ibid, hal 147
[4] Ibid, hal 147-148
[5] Ibid, hal 148-149

Tidak ada komentar:

Posting Komentar