1. Pengertian
Al-Qur’an
Al-Qur’an
adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, Muhammad, nabi yang
terakhir untuk disampaikan kepada seluruh ummat manusia. Ia merupakan petunjuk kehidupan manusia,
memberi penjelasan terhadap petunjuk tersebut serta pembeda anatara yang hak
dan yang bathil. (Q.S. Al-Baqarah: 185). “ petunjuk “ memiliki makna yang
sangat umum, meliputi bimbingan dalam beribadah dan juga tutunan dalam
bermuamalah. Ibadah ada yang diistilahkan dengan ibadah mahdlah (murni) yaitu seorang
hamba langsung berhubungan dengan bentuk perhambaan diri pada khaliq (sang
pencipta) dengan cara-cara tertentu dari pemujaan. Bentuk lain dari ibadah
disebut dengan ghairu mahdlah ( bukan ibadah murni) adalah semua tindakan
perbuatan hamba, namun tetap dilandasi pada iradat (kehendak) khaliq. Muamalah
adalah semua bentuk tindakan manusia dalam kesehariannya yang berkaitan dengan
sesama manusia. Maka muamalah yang dilandasi pada iradat khaliq tergolong
ibadah ghaira mahdlah.
Manusia,
dalam bermuamalah di muka bumi ini, sebagai hamba Tuhan dituntut untuk mematuhi
sejumlah prinsip, kaedah-kaedah dan aturan-Nya. Hal yang tidak kalah pentingnya
bagi umat islam adalah seluruh disiplin ilmu pengetahuan yang berkembang
ditengah-tengah mereka harus didasari dan dilandasi pada aturan allah yang
termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an dan berbaringan dengan apa yang ada dalam
alam ciptaan-Nya.[1]
2. Pengertian
Fisika ( Ilmu Alam)
Ilmu
pengetahuan alam pada umumnya diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang
susunan benda-benda serta perkembangannya, sedangkan Fisika(ilmu alam)
menyelidiki fenomenanya terutama yang diamati dari benda-benda yang tak
bernyawa.[2]
Dalam Ilmu Pengetahuan Islam, hal-hal tersebut di bedakan, dan studi fisika
merupakan bagian dari prinsip filsafat alam yang banyak dibahas oleh ilmuwan
muslim kenamaan, dibawah judul “filsafat alam”. Para ilmuwan muslim, ahli
teologi dan juga ahli metafisika mempunyai perhatian besar tehadap prinsip
filsafat alam oleh karena Al-Qur’an menaruh perhatian sangat besar kepada ilmu
tersebut seperti nampak dalam uraiannya tentang alam ilahi yang menakjubkan.
Mereka menunjukkan persoalan sepeti
sifat-sifat ruang dan waktu,materi serta gerakannya. Akibatnya ditemukan banyak
aliran banyak pikiran yang emngembangkan prinsip-prinsip fisika dan filsafat alam
itu sendiri. Ada yang melakukan uji coba berbagai kekuatan alam, dan berusaha
mendapat ilmu pengetahuan yang murni tentang dunia alamiah, untuk membantu
manusia yang selalu memikirkan alam sebagai manifestasi dari sifat-sifat Tuhan
yang maha besar yang berada diatas atau
dibalik alam tersebut.
Namun,
sumber yang mendorong epenelitian tentang ilmu ini,seperti ilmu lainnya, adalah
studi Al-Qur’an. Al-Qur’an telah menguraikan secara luas tentang alam samawi
melalui berbagai cara yang menunjukkan keagungan dan kebesaran Tuhan, seperti
telah dibahas dan dijelaskan dalam bab astronomi. Penggambaran tentang alam
fisik besar kali pengaruhnya kepada kaum muslimin pada masa permulaan islam,
yang memplopori perumusan tentang prinsip Filsafat alam. Kekuasaan dan
kebesaran Allah maha pencipta tellah diterangkan sebelumnya dan kalimat yang
indah menarik dan punya arti yang sangat dalam tentang dunia filosofis dan fisik, yang menberikan informasi tentang sifat Tuhan
sebagai pencipta alam.
3. Hubungan
Al-Qur’an dengan Ilmu Fisika
Ayat-Ayat
Al-Qur’an Tentang Fisika : [3]
“
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan
siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal”.(Ali Imran ayat 190).
Dalam
ayat diatas kita diberi petunjuk, setidaknya tersirat beberapa makna antara
lain: alam semesta yang senantiasa berproses tanpa henti dan menyajikan banyak
sekali gejala dalam seluruh dimensi ruang dan waktu yang terus berkembang.
Dalam Al-Qur’an surah Ar-Raad: 15 yang artinya “ hanya kepada Allah lah tunduk
/patuh segala apa yang ada dilangit dan dibumi baik atas kesadarannya sendiri
maupun terpaksa dan sujud pula
bayang-bayangnya diwaktu pagi dan petang”. Ayat ini mengingatkan kita bahwa
apapun nama dan bentuk gejala yang ditunjukkanNya selalu mengikuti sistem
dengan hukum-hukum yang ditetapkanNya.
Allah
SWT menampilkan gejala fisis untuk di artikan sebai perumpamaan antara lain
bahwa terdapat 3 tahap yang harus dilalui manusia yaitu: pertama, adanya
ketidaktahuan kita seperti melihat dalam kegelapan malam. Kedua, adanya
keragu-raguan kita seperti halnya kepekaan kita melihat cahaya merah diwaktu
senja. Ketiga, ditunjukkanNya gejala fisis serta penjelasan secara nyata dan
membawa isyarat keindahan dan keagunganNya
·
Besaran Fisis : ( Al-
Qamar: 49) dan ( Al-FurQan: 2)
“Sesungguhnya
kami menciptaka segala sesuatu menurut ukuran”. (Al-Qamar: 49)
“. . . Dia telah menciptakan
segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya”. (Al-FurQan: 2)
Kedua
ayat diatas mengisyaratkan bahwa kata “ukuran” adalah apa yang ada dialam ini
dapat dinyatakan dalam dua peran, yang pertama sebagai bilangan dengan sifat
dan ketelitian tergantung didalamnya dan yang kedua sebagi hukum atau aturan.
·
Dimensi dan Ruang : (
Al-Fushshilat: 53)
“Kami
akan memperlhatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami disegenap ufuk
dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah
bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak
cukup bagi kamu bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”.(Al-Fushshilat: 53)
Dalam
kata “tanda- tanda (kekuasaan) Allah” tersirat sifat dan perilaku seluruh
ciptaanNya dengan bernagai proses dan gejalanya. Adapun yang terkandung dalam
pengertian “ufuk”, selain yang berlaku sebagai dimensi ruang juga termasuk
dalam makna dimensi-dimensi.
·
Dinamika : (Ar-Rahman:
60)
“Tidak
ada balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula”.
Secara
harfiah dapat diartikan abhwa munculnya balasan kebaikan merupakan buah dari
interaksi. Dalam ayat ini tersirat pula dari pemberian dan abalasan berupa
potensi yang dimiliki suatu benda.
·
Usaha dan Energi :
(Ar-rad: 4)
“Dan
dibumi ini terdapat bagian-bagian yang berdekatan.....”.
Secara
harfiah diartikan sebagai berdekatan dalam dimensi tempat, sebagai daerah,
wilayah, negara dan sebagainya. Yang mempunyai potensi baik sumber daya alam
maupun sumber daya manusianya yang mengolah, mengembangkan dan
meningkatkan..... Berikutnya potensi tersebut saling di pertukarkan baik dari
sisi keunggulan komparatif maupun kompetitif.
·
Implus dan Momentum : (
Al- Jaatsiyah: 22 )
“Dan
Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi
tiap-tiap diri tehadap apa yang dikerjakan, dan mereka tidak akan merugikan”.
Ayat
diatas merupakan penjabaran interaksi yang terjadi dialam secara lebih luas
lagi. Interaksi tidak hanya sekedar saling pengaruh mempengaruhi, saling
memberi dan saling menerima antar manusia, makhluk atau benda.[4]
Dan
masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang berhubungan dengan ilmu fisika di
dalam Al-Qur’an.
4. Perspektif
Al-Qur’an Tentang Sains
a. Pandangan
Klasik[5]
Abu
Raihan Al Bairuni, ilmuwan muslim yang hidup dalam abad ke-X dan rajin mengukur
berat jenis berbagai benda, adalah orang yang pertama kali menyatakan
universaliatas hukum alam, dengan mengatakan bahwa fenomena gravitasi dibumi
sama dengan dilangit. Ialah orang yang mengatakan bahwa model alam plolemaeos,
yang geosentris, secara fisis tidak masuk akal karena langit yang begitu besar,
dengan bintang yang katanya menempel padanya dinyatakan berputar mengelilingi
bumi sebagai pusat. Ia bahkan menyebutkan kemungkinan adanya orbit yang eleptik
pada planet dalam komunikasinya dengan ibnu sina. Ketika enam abad kemudian
johann kepler berhasil menemukan hubungan antara waktu edar planet-planet
dengan sumbu utama elips masing-masing, maka muncullah dalam abad ke XVII karya
isaac newton “Principia” yang berisi teori garavitasinya. Sejak itu orang
mengetahi apa kendala yang mengekang planet-planet tata surya untuk bergerak
mengitari meatahari.
Bagaimana
konsepsi astro fisika tentang penciptaan alam dan pemikiran apa yang
melandasinya. Konsepsi itu berubah-ubah sepanjang sejarah, bergantung pada
kecanggihan alat-alat dan sarana observasinya,dan bergantung pada tingkat
kemajuan fisika itu sendiri. Dalam dasawarsa-dasawarsa pertama abad ini para
ahli fisika mempunyai konsepsi bahwa,sesuai dengan hasil observasi, langit atau ruang alam tak terbatas dan
besarnya tidak berhingga, sebab kalau ia terbatas, bintang dan galaksi yang ada
di tepi akan merasakan gaya tarik gravitasi dari satu sisi saja,yaitu kearah
pusat alam semesta, sehingga lama- kelamaan benda-benda langit itu akan
mengumpul disekitar pusat tersebut. Karena kecendrungan semacam itu tidak
pernah tampak pada pengamatan, maka orang berkesimpulan bahwa ruang alam ini
tak terbatas.
Tidak
hanya itu konsepsinya, alam menurut para pakar fisika tidak hanya tak terhingga
besarnya dan tak terbatas, tetapi juga tak berubah status totalitasnya dari
waktu tak berhingga lamanya yang telah lampau sampai waktu tak berhingga
lamanya yang akan datang.sebab menurut pengalaman para fisikawan di
laboratorium, materi itu kekal adanya. Apa pun reaksi yang dialaminya, kimiawi
atau fisis, massanya tak pernah hilang atau paling akan berubah menjadi energi
yang setara. Dengan demikian, maka materi alam yang ada ini juga tak pernah
tiada. Konsepsi bahwa alam ini kadim dan kekal, nyata tak mengakui adanya
penciptaan alam. Sudah barang tentu gagasan ini tidak sesuai dengan ajaran
islam sebagaimana yang terkandung dalm Al-Qur’an.
Pandangan
para ilmuan itu berasal dari Newton, yang melontarkan konsepsi tersebut sekitar
akhir abad ke-XVII, namun kekekalan massa ditegaskan oleh Lavoisier sekitar
akhir abad ke- XVIII,dan diperluas oleh Einstein dalam abad ini menjadi kekelan
massa dan energi atu sesara singkat kekekalan materi.dalam dasawarsa kedua abad
ke XX ini saja Einstein masih percaya pada kebenaran konsepsi klasik itu. Dari
prisip-prisip dasar ia membuat suatu perumusan matematis yang ia harapkan akan
dapat melukiskan alam yang sesuai dengan pengertian para ilmuan pada waktu
itu,namun Friedman mengungkapkan bahwa bahwa alam ini tidak mengungkapkn model
alam yang statis, yang menjadi konsensus para astronom- kosmolog, melainkan
jagad raya yang dinamis. Model ini kemudian dikenal dengan model Friedman .
Hal
ini tidak berkenan di hati Einstein dan dengan kecewa ia mengadakan perubahan
pada perumusannya dengan menambahkan bilangan konstan, sehingga hasil
matematisnya memenuhiselera sang jeniu, ia ternyata melukiskan alam yang
statis. Einstein merasa puas dengan perumusannya, meskipun alam semesta dalm
pemikiran ilmuan itu bukan alam yang ada menurut ajaran islam, yakni yang
diciptakan suatu waktu dan akan ditiadakan pada
saat yang lain, melainkan alam semesta yang tidak pernah diciptakan,
yang kadim yang langgeng,sesuai dengan konsensus yang didasarkan pada
kesimpulan yang rasional sebagai hasil analisis yang kritis terhadap berbagai data pengukuran dan dari pengamatan.
Pada tahap itu , fisika mempunyai konsepsi yang bertentangan dengan agama kita.
Al-Qur’an
yang diturunkan ayat-ayatnya sekitar 14 abad yang lalu mengandung uraian secara
garis besar tentang penciptaan alam semesta itu, namun ummat yang awam tidak
mengetahui maknanya sacara jelas. Sebab rincian dari skenario kejadian itu
terdapat dalam Al Kaun sebagai ayatullah yang harus “ dibaca”, dan ummat tidak
mampu membacanya, karena fisika dan sains pada umumnya, telah dilepaskannya
enam abad yang lalu. Tidak lagi umat secara umum dapat dimasukkan dakam
golongan yang disebutkan didalam Suroh Al- imran ayat 190-191 :
Artinya:
sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan
siang, terdapapat kekuasaan Allah bagi para “Ulul albab” yakni orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri, sambil duduk,dan dalam keadaan berbaring, dan
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata ): “Ya Tuhan
kami, tiadalah Engkau menciptakan ini semua dengan sia-sia, Maha Suci Engkau,
maka peliharalah kami dari azab neraka.” (Q.S Ali- Imran: 190-191)
b. Pandangan
Modern[6]
Dalam
tahun 1929
terjadi peristiwa penting yang menjadi awal pergeseran pandangan dilingkungan
para ahli tentang penciptaan alam, yang mengubah secara radikal konsepsi para fisikawan
mengenai munculnya alam semesta. Apabila kita ingin membandingkan konsepsi
fisika tentang penciptaan alam itu dengan ajaran Al-Qur’an, kita dapat
memeriksa apa yang dinyatakan dalam ayat 30 suroh Al-Anbiya yang artinya: “dan
tidaklah orang-orang kafir itu mengetahui bahwa langit (ruang alam) dan
bumi(materi alam) itu dahulu sesuatu yang padu, kemudian kami pisahkan keduanya
itu”.
Keterpaduan
ruang dan materi seperti dinyatakan di dalam ayat ini hanya dapat kita pahami
jika keduanya berada di satu titik, singularitas fisis yang merupakan volum yng
berisi seluruh materi sedangkan pemisahan mereka terjadi dalam suatu ledakan
dahsyat atau dentuman besar yang melontarkan materi keseluruh penjuru ruang
alam yang berkembang dengan sangat cepat sehingga tercipta universum yang
berekspansi.
DAFTAR
PUSTAKA
Amiruddian,
Hasbi.2007. Integrasi Ilmu dan Agama.Banda
Aceh: Ar-raniry Press Banda Aceh.
Baiquni,Achmad.
1994. Al-Qur’an Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi. Yogyakarta: Dana Bakti Primayasa.
Fuad, Ahmad.
2004. Dimensi Sains Al-Qur’an.Solo :
Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Ghulsany, Mahdi.
1999.Filsafat- Sains Menurut Al-Qur’an.
Bandung : Penerbit Mizan.
Rahman,
afzalur.1992. Al-Qur’an Sumber Ilmu
Pengetahuan. Jakarta. Penerbit Rineka Cipta.
http:// the
ladunni.blogspot.com/2012 /01/hubungan al-qur’an dengan ilmu
fisiska.html#xzz2kF5jzkln(diakses pada tanggal 03 april 2018).
[1] Amiruddin,hasbi,usman,husen,Integrasi
Ilmu dan Agama,(Banda aceh: Yayasan Pena dan Ar-raniri Press,2007) h.
101-102
[2] Rahman , Afzalur, Al-Qur’an
Sumber Ilmu Pengetahuan, (Jakarta :
Rineka Cipta)1992,h.71- 72
[3] Diakses dari http:// the ladunni.blogspot.com/2012
/01/hubungan al-qur’an denagn ilmu fisiska.html#xzz2kF5jzkln(diakses pada
tanggal 03 april 2018)
[4] Ibid
[5] Baiqun, achamad,Al-Qua’an Ilmu
Pengetahuan dan Tehknologi,(Jakarta: Dana Bhakti Prima Yasa)1994,h.9-12
[6] Ibid,h. 12-15
Tidak ada komentar:
Posting Komentar