Jumat, 14 Juni 2019

Fisika Dalam Perspektif Al-Qur'an



   1.      Pengertian Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, Muhammad, nabi yang terakhir untuk disampaikan kepada seluruh ummat manusia. Ia merupakan petunjuk kehidupan manusia, memberi penjelasan terhadap petunjuk tersebut serta pembeda anatara yang hak dan yang bathil. (Q.S. Al-Baqarah: 185). “ petunjuk “ memiliki makna yang sangat umum, meliputi bimbingan dalam beribadah dan juga tutunan dalam bermuamalah. Ibadah ada yang diistilahkan dengan ibadah mahdlah (murni) yaitu seorang hamba langsung berhubungan dengan bentuk perhambaan diri pada khaliq (sang pencipta) dengan cara-cara tertentu dari pemujaan. Bentuk lain dari ibadah disebut dengan ghairu mahdlah ( bukan ibadah murni) adalah semua tindakan perbuatan hamba, namun tetap dilandasi pada iradat (kehendak) khaliq. Muamalah adalah semua bentuk tindakan manusia dalam kesehariannya yang berkaitan dengan sesama manusia. Maka muamalah yang dilandasi pada iradat khaliq tergolong ibadah ghaira mahdlah.
Manusia, dalam bermuamalah di muka bumi ini, sebagai hamba Tuhan dituntut untuk mematuhi sejumlah prinsip, kaedah-kaedah dan aturan-Nya. Hal yang tidak kalah pentingnya bagi umat islam adalah seluruh disiplin ilmu pengetahuan yang berkembang ditengah-tengah mereka harus didasari dan dilandasi pada aturan allah yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an dan berbaringan dengan apa yang ada dalam alam ciptaan-Nya.[1]





  2.      Pengertian Fisika ( Ilmu Alam)
Ilmu pengetahuan alam pada umumnya diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang susunan benda-benda serta perkembangannya, sedangkan Fisika(ilmu alam) menyelidiki fenomenanya terutama yang diamati dari benda-benda yang tak bernyawa.[2] Dalam Ilmu Pengetahuan Islam, hal-hal tersebut di bedakan, dan studi fisika merupakan bagian dari prinsip filsafat alam yang banyak dibahas oleh ilmuwan muslim kenamaan, dibawah judul “filsafat alam”. Para ilmuwan muslim, ahli teologi dan juga ahli metafisika mempunyai perhatian besar tehadap prinsip filsafat alam oleh karena Al-Qur’an menaruh perhatian sangat besar kepada ilmu tersebut seperti nampak dalam uraiannya tentang alam ilahi yang menakjubkan. Mereka menunjukkan persoalan  sepeti sifat-sifat ruang dan waktu,materi serta gerakannya. Akibatnya ditemukan banyak aliran banyak pikiran yang emngembangkan prinsip-prinsip fisika dan filsafat alam itu sendiri. Ada yang melakukan uji coba berbagai kekuatan alam, dan berusaha mendapat ilmu pengetahuan yang murni tentang dunia alamiah, untuk membantu manusia yang selalu memikirkan alam sebagai manifestasi dari sifat-sifat Tuhan yang maha besar yang berada diatas  atau dibalik alam tersebut.
Namun, sumber yang mendorong epenelitian tentang ilmu ini,seperti ilmu lainnya, adalah studi Al-Qur’an. Al-Qur’an telah menguraikan secara luas tentang alam samawi melalui berbagai cara yang menunjukkan keagungan dan kebesaran Tuhan, seperti telah dibahas dan dijelaskan dalam bab astronomi. Penggambaran tentang alam fisik besar kali pengaruhnya kepada kaum muslimin pada masa permulaan islam, yang memplopori perumusan tentang prinsip Filsafat alam. Kekuasaan dan kebesaran Allah maha pencipta tellah diterangkan sebelumnya dan kalimat yang indah menarik dan punya arti yang sangat dalam tentang dunia filosofis  dan fisik, yang  menberikan informasi tentang sifat Tuhan sebagai pencipta alam.

3.      Hubungan Al-Qur’an dengan Ilmu Fisika
Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Fisika : [3]
“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal”.(Ali Imran ayat 190).
Dalam ayat diatas kita diberi petunjuk, setidaknya tersirat beberapa makna antara lain: alam semesta yang senantiasa berproses tanpa henti dan menyajikan banyak sekali gejala dalam seluruh dimensi ruang dan waktu yang terus berkembang. Dalam Al-Qur’an surah Ar-Raad: 15 yang artinya “ hanya kepada Allah lah tunduk /patuh segala apa yang ada dilangit dan dibumi baik atas kesadarannya sendiri maupun terpaksa  dan sujud pula bayang-bayangnya diwaktu pagi dan petang”. Ayat ini mengingatkan kita bahwa apapun nama dan bentuk gejala yang ditunjukkanNya selalu mengikuti sistem dengan hukum-hukum yang ditetapkanNya.
Allah SWT menampilkan gejala fisis untuk di artikan sebai perumpamaan antara lain bahwa terdapat 3 tahap yang harus dilalui manusia yaitu: pertama, adanya ketidaktahuan kita seperti melihat dalam kegelapan malam. Kedua, adanya keragu-raguan kita seperti halnya kepekaan kita melihat cahaya merah diwaktu senja. Ketiga, ditunjukkanNya gejala fisis serta penjelasan secara nyata dan membawa isyarat keindahan dan keagunganNya

·         Besaran Fisis : ( Al- Qamar: 49) dan ( Al-FurQan: 2)
“Sesungguhnya kami menciptaka segala sesuatu menurut ukuran”. (Al-Qamar: 49)


. . . Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya”. (Al-FurQan: 2)

Kedua ayat diatas mengisyaratkan bahwa kata “ukuran” adalah apa yang ada dialam ini dapat dinyatakan dalam dua peran, yang pertama sebagai bilangan dengan sifat dan ketelitian tergantung didalamnya dan yang kedua sebagi hukum atau aturan.
·         Dimensi dan Ruang : ( Al-Fushshilat: 53)
 
“Kami akan memperlhatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah  bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bagi kamu bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”.(Al-Fushshilat: 53)

Dalam kata “tanda- tanda (kekuasaan) Allah” tersirat sifat dan perilaku seluruh ciptaanNya dengan bernagai proses dan gejalanya. Adapun yang terkandung dalam pengertian “ufuk”, selain yang berlaku sebagai dimensi ruang juga termasuk dalam makna dimensi-dimensi.


·         Dinamika : (Ar-Rahman: 60)
  
“Tidak ada balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula”.

Secara harfiah dapat diartikan abhwa munculnya balasan kebaikan merupakan buah dari interaksi. Dalam ayat ini tersirat pula dari pemberian dan abalasan berupa potensi yang dimiliki suatu benda.

·         Usaha dan Energi : (Ar-rad: 4)
“Dan dibumi ini terdapat bagian-bagian yang berdekatan.....”.

Secara harfiah diartikan sebagai berdekatan dalam dimensi tempat, sebagai daerah, wilayah, negara dan sebagainya. Yang mempunyai potensi baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya yang mengolah, mengembangkan dan meningkatkan..... Berikutnya potensi tersebut saling di pertukarkan baik dari sisi keunggulan komparatif maupun kompetitif.



·         Implus dan Momentum : ( Al- Jaatsiyah: 22 )
“Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri tehadap apa yang dikerjakan, dan mereka tidak akan merugikan”.
Ayat diatas merupakan penjabaran interaksi yang terjadi dialam secara lebih luas lagi. Interaksi tidak hanya sekedar saling pengaruh mempengaruhi, saling memberi dan saling menerima antar manusia, makhluk atau benda.[4]
Dan masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang berhubungan dengan ilmu fisika di dalam Al-Qur’an.

4.      Perspektif Al-Qur’an Tentang Sains
a.       Pandangan Klasik[5]
Abu Raihan Al Bairuni, ilmuwan muslim yang hidup dalam abad ke-X dan rajin mengukur berat jenis berbagai benda, adalah orang yang pertama kali menyatakan universaliatas hukum alam, dengan mengatakan bahwa fenomena gravitasi dibumi sama dengan dilangit. Ialah orang yang mengatakan bahwa model alam plolemaeos, yang geosentris, secara fisis tidak masuk akal karena langit yang begitu besar, dengan bintang yang katanya menempel padanya dinyatakan berputar mengelilingi bumi sebagai pusat. Ia bahkan menyebutkan kemungkinan adanya orbit yang eleptik pada planet dalam komunikasinya dengan ibnu sina. Ketika enam abad kemudian johann kepler berhasil menemukan hubungan antara waktu edar planet-planet dengan sumbu utama elips masing-masing, maka muncullah dalam abad ke XVII karya isaac newton “Principia” yang berisi teori garavitasinya. Sejak itu orang mengetahi apa kendala yang mengekang planet-planet tata surya untuk bergerak mengitari meatahari.
Bagaimana konsepsi astro fisika tentang penciptaan alam dan pemikiran apa yang melandasinya. Konsepsi itu berubah-ubah sepanjang sejarah, bergantung pada kecanggihan alat-alat dan sarana observasinya,dan bergantung pada tingkat kemajuan fisika itu sendiri. Dalam dasawarsa-dasawarsa pertama abad ini para ahli fisika mempunyai konsepsi bahwa,sesuai dengan hasil observasi, langit atau ruang alam tak terbatas dan besarnya tidak berhingga, sebab kalau ia terbatas, bintang dan galaksi yang ada di tepi akan merasakan gaya tarik gravitasi dari satu sisi saja,yaitu kearah pusat alam semesta, sehingga lama- kelamaan benda-benda langit itu akan mengumpul disekitar pusat tersebut. Karena kecendrungan semacam itu tidak pernah tampak pada pengamatan, maka orang berkesimpulan bahwa ruang alam ini tak terbatas.
Tidak hanya itu konsepsinya, alam menurut para pakar fisika tidak hanya tak terhingga besarnya dan tak terbatas, tetapi juga tak berubah status totalitasnya dari waktu tak berhingga lamanya yang telah lampau sampai waktu tak berhingga lamanya yang akan datang.sebab menurut pengalaman para fisikawan di laboratorium, materi itu kekal adanya. Apa pun reaksi yang dialaminya, kimiawi atau fisis, massanya tak pernah hilang atau paling akan berubah menjadi energi yang setara. Dengan demikian, maka materi alam yang ada ini juga tak pernah tiada. Konsepsi bahwa alam ini kadim dan kekal, nyata tak mengakui adanya penciptaan alam. Sudah barang tentu gagasan ini tidak sesuai dengan ajaran islam sebagaimana yang terkandung dalm Al-Qur’an.
Pandangan para ilmuan itu berasal dari Newton, yang melontarkan konsepsi tersebut sekitar akhir abad ke-XVII, namun kekekalan massa ditegaskan oleh Lavoisier sekitar akhir abad ke- XVIII,dan diperluas oleh Einstein dalam abad ini menjadi kekelan massa dan energi atu sesara singkat kekekalan materi.dalam dasawarsa kedua abad ke XX ini saja Einstein masih percaya pada kebenaran konsepsi klasik itu. Dari prisip-prisip dasar ia membuat suatu perumusan matematis yang ia harapkan akan dapat melukiskan alam yang sesuai dengan pengertian para ilmuan pada waktu itu,namun Friedman mengungkapkan bahwa bahwa alam ini tidak mengungkapkn model alam yang statis, yang menjadi konsensus para astronom- kosmolog, melainkan jagad raya yang dinamis. Model ini kemudian dikenal dengan model Friedman .
Hal ini tidak berkenan di hati Einstein dan dengan kecewa ia mengadakan perubahan pada perumusannya dengan menambahkan bilangan konstan, sehingga hasil matematisnya memenuhiselera sang jeniu, ia ternyata melukiskan alam yang statis. Einstein merasa puas dengan perumusannya, meskipun alam semesta dalm pemikiran ilmuan itu bukan alam yang ada menurut ajaran islam, yakni yang diciptakan suatu waktu dan akan ditiadakan pada  saat yang lain, melainkan alam semesta yang tidak pernah diciptakan, yang kadim yang langgeng,sesuai dengan konsensus yang didasarkan pada kesimpulan yang rasional sebagai hasil analisis yang kritis terhadap  berbagai data pengukuran dan dari pengamatan. Pada tahap itu , fisika mempunyai konsepsi yang bertentangan dengan agama kita.
Al-Qur’an yang diturunkan ayat-ayatnya sekitar 14 abad yang lalu mengandung uraian secara garis besar tentang penciptaan alam semesta itu, namun ummat yang awam tidak mengetahui maknanya sacara jelas. Sebab rincian dari skenario kejadian itu terdapat dalam Al Kaun sebagai ayatullah yang harus “ dibaca”, dan ummat tidak mampu membacanya, karena fisika dan sains pada umumnya, telah dilepaskannya enam abad yang lalu. Tidak lagi umat secara umum dapat dimasukkan dakam golongan yang disebutkan didalam Suroh Al- imran ayat 190-191 :
ž 
Artinya: sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang, terdapapat kekuasaan Allah bagi para “Ulul albab” yakni orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, sambil duduk,dan dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata ): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini semua dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka.” (Q.S Ali- Imran: 190-191)
             
b.      Pandangan Modern[6]
Dalam tahun 1929 terjadi peristiwa penting yang menjadi awal pergeseran pandangan dilingkungan para ahli tentang penciptaan alam, yang mengubah secara radikal konsepsi para fisikawan mengenai munculnya alam semesta. Apabila kita ingin membandingkan konsepsi fisika tentang penciptaan alam itu dengan ajaran Al-Qur’an, kita dapat memeriksa apa yang dinyatakan dalam ayat 30 suroh Al-Anbiya yang artinya: “dan tidaklah orang-orang kafir itu mengetahui bahwa langit (ruang alam) dan bumi(materi alam) itu dahulu sesuatu yang padu, kemudian kami pisahkan keduanya itu”.
Keterpaduan ruang dan materi seperti dinyatakan di dalam ayat ini hanya dapat kita pahami jika keduanya berada di satu titik, singularitas fisis yang merupakan volum yng berisi seluruh materi sedangkan pemisahan mereka terjadi dalam suatu ledakan dahsyat atau dentuman besar yang melontarkan materi keseluruh penjuru ruang alam yang berkembang dengan sangat cepat sehingga tercipta universum yang berekspansi.









DAFTAR PUSTAKA
Amiruddian, Hasbi.2007. Integrasi Ilmu dan Agama.Banda Aceh: Ar-raniry Press Banda Aceh.
Baiquni,Achmad. 1994. Al-Qur’an Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Yogyakarta: Dana Bakti Primayasa.
Fuad, Ahmad. 2004. Dimensi Sains Al-Qur’an.Solo : Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Ghulsany, Mahdi. 1999.Filsafat- Sains Menurut Al-Qur’an. Bandung : Penerbit Mizan.
Rahman, afzalur.1992. Al-Qur’an Sumber Ilmu Pengetahuan. Jakarta. Penerbit Rineka Cipta.
http:// the ladunni.blogspot.com/2012 /01/hubungan al-qur’an dengan ilmu fisiska.html#xzz2kF5jzkln(diakses pada tanggal 03 april 2018).








[1] Amiruddin,hasbi,usman,husen,Integrasi Ilmu dan Agama,(Banda aceh: Yayasan Pena dan Ar-raniri Press,2007) h. 101-102
[2] Rahman , Afzalur, Al-Qur’an Sumber  Ilmu Pengetahuan, (Jakarta : Rineka Cipta)1992,h.71- 72
[3] Diakses dari  http:// the ladunni.blogspot.com/2012 /01/hubungan al-qur’an denagn ilmu fisiska.html#xzz2kF5jzkln(diakses pada tanggal 03 april 2018)
[4] Ibid
[5] Baiqun, achamad,Al-Qua’an Ilmu Pengetahuan dan Tehknologi,(Jakarta: Dana Bhakti Prima Yasa)1994,h.9-12
[6] Ibid,h. 12-15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar