Jumat, 14 Juni 2019

Syirik


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ada tiga sebab fundamental munculnya perilaku syirik yaitu Al Jahlu(Kebodohan), dhai’ful iiman (lemahnya iman), dan taqliid (ikut-ikutan secara membabi-buta).
Al-jahlu sebab pertama perbuatan syirik. Karenanya masyarakat sebelum datangnya Islam disebut dengan masyarakat jahiliyah. Sebab, mereka tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Dalam kondisi yang penuh dengan kebodohan itu, orang-orang cendrung berbuat syirik. Karenanya semakin jahiliyah suatu kaum, bisa dipastikan kecenderungan berbuat syirik semakin kuat. Dan biasanya di tengah masyarakat jahiliyah para dukun selalu menjadi rujukan utama. Mengapa? Sebab mereka bodoh, dan dengan kobodohannya mereka tidak tahu bagaimana seharusnya mengatasi berbagai persoalan yang mereka hadapi. Ujung-ujungnya para dukun sebagai narasumber yang sangat mereka agungkan.
Penyebab kedua perbuatan syirik adalah dhai’ful iimaan (lemahnya iman). Seorang yang imannya lemah cenderung berbuat maksiat. Sebab, rasa takut kepada Allah tidak kuat. Lemahnya rasa takut kepada Allah ini akan dimanfaatkan oleh hawa nafsu untuk menguasai diri seseorang. Ketika seseorang dibimbing oleh hawa nafsunya, maka tidak mustahil ia akan jatuh ke dalam perbuatan-perbuatan syirik seperti memohon kepada pohonan besar karena ingin segera kaya, datang ke kuburan para wali untuk minta pertolongan agar ia dipilih jadi presiden, atau selalu merujuk kepada para dukun untuk suapaya penampilannya tetap memikat hati orang banyak.
Taqliid sebab yang ketiga. Al-Qur’an selalu menggambarkan bahwa orang-orang yang menyekutukan Allah selalu memberi alasan mereka melakukan itu karena mengikuti jejak nenek moyang mereka.




BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Syirik
Syirik berasal dari akar kata “syaraka yasyraku-syirkan- fahuwa syaarikun”,
artinya mencampur, kemudian mendapatkan awalan alif menjadi “asyraka-yusyriku-isyrakan-fahuwa musyrikun”, artinya mencapurkan atau menyekutukan, campuraduk, tidak keruan, bersyarikat, dan lain-lain.[1]
Dengan kata lain, syirik merupakan lawan kata “ikhlas” yang artinya murni, bersih tidak tercampur dengan sesuatu. Pelakunya disebut mukhlis.[2]
Syirik memunyai dua arti:[3]
Pertama, arti umum. Yaitu menyamakan sesuatu selain Allah dengan Allah pada apa yang menjadi kekuasan Allah. Syirik ini dibagi menjadi tiga jenis:
1.      Syirik dalam rububiyah
2.      Syirik dalam uluhiyah
3.      Syirik dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah
Kedua: arti khusus. Yaitu menjadikan sesuatu selain Allah sebagai tuhan yang di sembah dan ditaati disamping Allah.Maka siapa saja yang menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai sembahan yang ditaati selain Allah,ia disebut musyrik dalam bahasa wahyu dan atsar.Allah swt berfirman:

"Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu)."
Syirik dari segi bahasa artinya mempersekutukan, secara istilah adalah perbuatan yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lainOrang yang melakukan syirik disebut musyrik. Seorang musyrik melakukan suatu perbuatan terhadap makhluk (manusia maupun benda) yang seharusnya perbuatan itu hanya ditujukan kepada Allah seperti menuhankan sesuatu selain Allah dengan menyembahnya, meminta pertolongan kepadanya, menaatinya, atau melakukan perbuatan lain yang tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah SWT.[4]
Perbuatan syirik termasuk dosa besar. Allah mengampuni semua dosa yang dilakukan hambanya, kecuali dosa besar seperti syirik. Firman Allah SWT:

Artinya:  Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang  besar.” (QS. An-Nisaa’: 48)

B.    Macam-Macam Syirik 
      Dilihat dari sifat dan tingkat sanksinya, syirik dapat dibagi menjadi dua yaitu: 
      1.    Syirik Akbar (Syirik Besar)
  Syirik akbar adalah bahwa ia menjadikan sekutu selain Allah yang ia sembah atau taati sama     seperti ia menyembah dan menaati Allah.[5]
Syirik akbar merupakan syirik yang tidak akan mendapat ampunan Allah. Syirik akbar dibagi menjadi dua, yang pertama yaitu Zahirun Jali (tampak nyata), yakni perbuatan kepada tuhan-tuhan selain Allah atau baik tuhan yang berbentuk berhala, binatang, bulan, matahari, batu, gunung, pohon besar, sapi, ular, manusia dan sebagainya. Demikian pula menyembah makhluk-makhluk ghaib seperti setan, jin dan malaikat. 
Yang kedua yaitu syirik akbar Bathinun Khafiyun(tersembunyi) seperti meminta pertolongan kepada orang yang telah meninggal. Setiap orang yang menaati makhluk lain serta mengikuti selain dari apa yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, berarti telah terjerumus kedalam lembah kemusyrikan.[6]
2.      Syirik Asghar (Syirik Kecil)
Syirik asghar adalah bahwa ia menyamakan sesuatu selain Allah dengan Allah dalm bentuk perkataan atu perbuatan, syirik dalam bentuk amal adalah riya. Sedang dalam bentuk perkataan lisan adalah lafaz-lafaz yang mengandung makna  menyamakan Allah dengan sesuatu ng lain.[7]
Syirik asghar termasuk perbuatan dosa besar, akan tetapi masih ada peluang diampuni Allah jika pelakunya segera bertobat. Seorang pelaku syirik asghar dikhawatirkan akan meninggal dunia dalam keadaan kufur jika ia tidak segera bertaubat. Contoh-contoh perbuatan syirik asghar antara lain:
a.      Bersumpah dengan nama selain Allah
Sabda Rasulullah :
Artinya: “Dan barang siapa yang bersumpah dengan selain nama Allah, maka dia telah kufur atau syirik”. (HR. Tirmidzi).
b.      Memakai azimat
Memakai azimat termasuk perbuatan syirik karena mengandung unsur meminta atau mengharapkan sesuatu kepada kekuatan lain selain Allah.
Sabda Rasulullah :    
Artinya“Barangsiapa menggantungkan azimat, maka dia telah berbuat syirik”. (HR. Ahmad).
c.       Mantera
Mantera yaitu mengucapkan kata-kata atau gumam-gumam yang dilakukan oleh orang jahiliyah dengan keyakinan, bahwa kata-kata atau gumam-gumam itu dapat menolak kejahatan atau bala dengan bantuan jin.
Sabda Rasulullah :    
Artinya: ”Sesungguhnya mantera, azimat dan guna-guna itu adalah perbuatan syirik”. (HR. Ibnu Hibban).
d.      Sihir
Sihir termasuk perbuatan syirik karena perbuatan tersebut dapat menipu atau mengelabui orang dengan bantuan jin atau setan. Dan dalam sebuah hadits disebutkan:
Artinya“Barangsiapa yang membuat suatu simpul kemudian dia meniupinya, maka sungguh ia telah menyihir. Barangsiapa menyihir, sungguh ia telah berbuat syirik”. (HR. Nasa’i).
e.       Peramalan
Yang dimaksud peramalan ialah menentukan dan memberitahukan tentang hal-hal yang ghaib pada masa-masa yang akan datang baik itu dilakukannya dengan ilmu perbintangan, dengan membaca garis-garis tangan, dengan bantuan jin dan sebagainya. Rasulullah SAW bersabda:
Artinya“Barangsiapa yang mempelajari salah sat ilmu perbintangan, maka ia telah mempelajari sihir”. (HR. Abu Daud).
Yamg dimaksud ilmu perbintangan dalam hadits ini bukanlah ilmu perbintangan yang mempelajari tentang planet yang dalam ilmu pengetahuan disebut astronomi.
f.       Nusyrah
Menurut Ibnul Atsir, Nusyrah adalah pengobatan yang dilakukan terhadap orang yang diduga kemasukan jin. Nusyrah juga bermakna mengeluarkan sihir dari seseorang yang terkena sihir.
Ada dua jenis Nusyrah. Pertama, menyembuhkan orang yang terkena sihir dengan doa yang terdapat dalam Al Quran dan Sunah. Ini hukumnya mubah atau boleh.
Kedua, menyembuhkan orang yang terkena sihir dengan sihir lagi. Ini hukumnya haram.Rasulullah,ditanya tentang Nusyrah, maka beliau bersabda, “Hal itu adalah pekerjaan setan” ( HR. Abu Daud dan Imam Ahmad dari Jabir bin Adbillah, Sunan Abu Daud ).
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad :
“Allah swt tidak menjadikan kesembuhan (penyakit yang menimpa) umatku pada apa yang Ia haramkan bagi mereka.”
Jadi, mengeluarkan atau menyembuhkan  orang yang terkena sihir dengan sihir adalah perbuatan setan sedang perbuatan setan itu haram, maka tak akan ada kesembuhan didalamnya. Juga tidak boleh menduga bahwa di situ biasanya ada kesembuhan, karena beliau mengharamkan berobat dengan sesuatu yang haram  itu juga tidak dibenarkan dengan alasan darurat, karena wilayah darurat itu ada pada sesuatu yang mengandung manfaat yang dapat menolaknya, sedang sihir tidak demikian sebagaimana yang disinyalir hadist terdahulu. Jika kita mengatakan, dalam pengobatan seperti ini ada manfaat, maka wilayah darurat itu ada dalam ketakutan terhadap mati, sedang orang yang terkena sihir itu tidak mati karena pengaruh sihir semata sehingga kita dapat membenarkannya melakukan itu dengan alasan untuk menjaga keselamatan jiwanya.
Selain itu membolehkan mendatangi penyihir untuk keperluan pengobatan sama artinya dengan mempelajari sihir. Dan ini secara implisit berarti membolehkan mempelajari dan melaksanaakan sihir, dan ini tentu saja membuka peluang bagi orang-orang jahat untuk menyihir orang sehingga orang itu terpaksa mendatanginya berobat. Dan seterusnya, terbentuklah mata rantai kejahatan dan kerusakan, padahal syari’at telah menghalalkan darah penyihir dan menyatakannya kafir. Masalah ini merupakan musibah yang telah menimpa banyak orang di zaman ini, dimana banyak diantara mereka yang memanfaatkan jasa penyihir untuk menyembuhkan sihir yang menimpa mereka  atau menyihir orang lain karena dengki, dendam dan benci. Inilah mata rantai kejahatan dan kerusakan yang membuka pintu khurafat dalam masyarakat.
g.      Dukun dan tenung
Dukun ialah orang yang dapat memberitahukan tentang hal-hal yang ghaib pada masa datang, atau memberitahukan apa yang tersirat dalam naluri manusia. Adapun tukang tenung adalah nama lain dari peramal atau dukun, atau orang-orang yang mengaku bahwa dirinya dapat mengetahui dan melakukan hal-hal yang ghaib, baik dengan bantuan jin atau setan, ataupun dengan membaca garis tangan. Dalam sebuah hadits diterangkan:
Artinya: “Dari Wailah bin Asqa’i ra berkata: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa datang kepada tukang tenung lalu menanyakan tentang sesuatu, maka terhalanglah tobatnya selama empat puluh hari. Dan bila mempercayai perkataan tukang tenung itu, maka kafirlah ia”. (HR. Thabrani).
h.      Bernazar kepada selain Allah
Dalam masyarakat masih dijumpai seseorang bernazar kepada selain Allah. Misalnya seseorang bernazar, “Jika aku sembuh dari penyakit aku akan mengadakan sesajian ke makam wali”. Perbuatan seperti itu adalah perbuatan yang sesat.
Firman Allah SWT:
Artinya“Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim tidak ada seorang penolongpun baginya”. (QS. Al-Baqarah: 270).
i.        Riya
Riya adalah beramal bukan karena Allah, melainkan karena ingin dipuji atau dilihat orang. Riya termasuk syirik, sebagaimana Sabda Rasulullah :
Artinya“Sesuatu yang amat aku takuti yang akan menimpa kamu ialah syirik kecil. Nabi ditanya tentang hal ini, maka beliau menjawab, ialah Riya”. (HR. Ahmad).

Sebagaimana juga firman Allah SWT:
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria.(Q.S Al- Ma’un: 4-6).

Pada masa pemerintahan Fir’aun, dari kaum Fir’aun kita dapat menarik pelajaran bahwa yang disebut syirik bukan hanya sikap seseorang yang mengagung-agungkan sesuatu dari kalangan sesama makhluk, termasuk sesama manusia (kultus), tetapi syirik juga meliputi sikap mengagung-agungkan diri sendiri kemudian menindas harkat dan martabat sesama manusia, seperti tingkah diktator dan tiran.






















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Syirik yaitu kepercayaan terhadap suatu benda yang mempunyai kekuatan tertentu atau juga mempercayai hal-hal selain Allah Swt. Orang yang mempercayai hal tersebut dinamakan Musyrik. Sedangkan orang musyrik itu adalah orang yang mempersekutukan. Pengertian Musyrik menurut istilah yaitu orang yang menyembah dan mengakui adanya Tuhan selain Allah atau menyamakan sesuatu dengan Allah, baik Zat, Sifat, ataupun perbuatan-Nya.
Sikap syirik dapat merusak, bahkan dapat menggugurkan aqidah Islam. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati jangan sampai gerak hati, ucapan, dan perbuatan kita terbawa kedalam kemusyrikan. Sebab ada syirik kecil dan syirik besar. Syirik kecil dapat berubah menjadi syirik besar.
















DAFTAR PUSTAKA

Subhani, Ja’far, Tauhid Dan Syirik. Bandung: Mizan, 1996.
Wahhab, Muhammad Bin Abdul, Tegakkan Tauhid Tumbangkan Syirik. Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2000.
Tim Penyusun, Akidah Akhlak al-Hikmah. Surabaya: Akik Pusaka, 2008.
Aldinul Karim, Zina Termasuk Dosa Besar. Lugu: Rineka Cipta, 2008.
http://www.huajiehulan.com/2012/06/syirik-kecil-dalam-nusyrah.html
https://jalmilaip.wordpress.com/2012/03/18/pengertian-bentuk-syirik/


[1] Taufik Rahman, Tauhid Ilmu kalam, (Bandung: Pustaka Setia, 2013), hal. 57.
[2] Ibid.,
[3] Ibrahim Muhammad, Pengantar Studi Aqidah Islam, (Jakarta:Robbani Press,1998), hal. 220.
[4] Ja’far  Subhani, Tauhid Dan Syirik, (Bandung: Mizan, 1996), hal.86
[5] Ibrahim Muhammad., Op.Cit, hal. 222.

[6] Taufik Rahman ., Op.Cit, hal. 66.
[7] Ibrahim Muhammad., Op.Cit, hal. 223.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar