Senin, 03 Juni 2019

Metodologi Studi Agama


   A.   Pengertian Agama
Kata Agama berasal dari kata sansekerta, yaitu a dan gama; a berarti tidak, dan gama berarti pegi.[1]Jadi Agama berarti tidak pergi. Maksudnya Agama itu diwarisi secara turun temurun.[2]
Pada umumnya, perkataan “ agama “ diartikan tidak kacau, yang secara analisis diuraikan dengan cara memisahkan kata demi kata, yaitu  a  berarti “ tidak “ dan gama berarti “ kacau “ maksudnya orang yang memeluk agama dan mengamalkan ajaran-ajarannya dengan sungguh-sungguh, hidupnya tidak akan mengalami kekacauan.
Perkataan agama dalam bahasa arab ditransliterasikan dengan ad-din. Dalam kamus Al-Munjid, perkataan din memiliki arti harfiah yang cukup banyak, yaitu pahala, ketentuan, kekuasaan, peraturan dan perhitungan.
Pengertian agama secara terminologis, menurut beberapa pendapat para ahli adalah sebagai berikut :
1.      Emile Durkheim mengartikan, sebagai suatu kesatuan sistem kepercayaan dan pengalaman terhadap ia suatu kepercayaan yang sakral, kemudian kepercayaan dam pengalaman tersebut menyatu kedalam suatu komunitas moral.
2.      John R. Bennet mengartikan agama sebagai penerimaan atas tata aturan terhadap kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi daripada kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh manusia sendiri.
3.      Frans Dahler mendefinisikn agama sebagai hubungan manusia dengan sesuatu kekuatan suci yang lebih tinggi daripada manusia itu sendiri, sehingga ia berusaha mendekatinya dan memiliki rasa ketergantungan kepadanya.
4.      Karl Mark berpendapat bahw agama adalah keluh jesah dari makhluk yang tertekan hati dari dunia yang tidak berhati, jiwa dari keadaan yang tidak berjiwa bahkan menurut pendapatnya pula bahwa agama dijadikan sebagai candu masyarakat.
5.      Para Ulama Islam mendefinisikan agama adalah sebagai undang-undang kebutuhan manusia dari Tuhannya yang mendorong meereka untuk berusaha agar tercapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Dari beberapa pengertian agama diatas, dapat disimpulkan bahwa agama merupakan satu sistem credo (tata keimanan atau tata keyakinan) atas  adanya sesuatu yang mutlak diluar manusia, dan satu sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya mutlak serta sistem norma (tata kaidah) yang mengatur hubugan manusia dengan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan tesebut.[3]
Eksistensi agama selain sebagai sistem kepercayaan yang mengharuskan adanya kebenaran, juga sebagai tindakan praktis terhadap aplikasi kepercayaan (iman) yang telah diakui kebenaraanya. Dalam hal ini Ibnu Sina memiliki dua aspek missi, yaitu missi teoritis dan praktis. Missi teoritis berfungsi mengarahkan jiwa manusia menuju kebahagiaan abadi dengan mengajarkan ajaran dasar keimanan terhadap eksistensi Tuhan, realitas wahyu, dan kenabian serta kehidupan sesudah mati. Adapun missi praktis mengajarkan aspek-aspek praktis agama sebagai tindakan ritual untuk dilaksanakan oleh seseorang yang beriman.[4]

B.     Pengertian Studi Agama
Studi agama adalah kajian ilmiah tentang agama.mencakup segala sesuatu yang berhubungan dengan agam. Frank Whaling membaginya kepada dua bagian, yaitu tentang the major tradition dan the minor living tradition. Major tradition adalah seluruh agama yang ada di dunia, sedangkan the minor living tradition adalah sekte-sekte yang ada dalam masing-masing agama.[5]
Dengan demikian, studi agama mencakup segala hal tentang agama. Menyangkut isi ajaran agama dan aplikasi pada perilaku manusia. Sejalan dengan itu, studi agama mengguakan berbagai pendekatan dan metode, seperti pendekatan filsafat, sosiologi, antropologi, sejarah, phenomenologi, psikologi, linguistik dan lain-lain,termasuk pendekatan agama itu sendiri, khususnya pendekatan teologi.[6]
Studi agama adalah kegiatan ‘keilmuan’ bukan kegiatan ‘keagamaan’. Kegiatan keilmuan mengandalkan perlunya pendekatan kritis, analitis dan historis, sedangkan kegiatan keagamaan lebih menonjolkan sikap pemihakan,idealitas dan bahkan sering diwarnai dengan pembelaan secara apologis.[7]
Berdasarkan itu dapat dirumskan bahwa studi agama adalah kajian ilmiah tentang agama dari berbagai aspeknya, dengan kata lain, menjadikan agama sebagai objek kajian ilmiah.

C.     Latar belakang perlunya manusia terhadap Agama
Sekurang-kurangnya ada empat alasan yang melatarbelakangi perlunya manusia terhadap agama. Keempat alasan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:[8]
1.      Latar belakang fitrah manusia.
Kenyataan bahwa manusia memiliki fitrah keagamaan pertama kali ditegaskan dalam ajaran islam, yakni bahwa agama adalah kebutuhan fitri manusia.Fitrah keagamaan yang ada dalam diri manusia inilah yang melatarbelakangi perlunya manusia terhadap agama.
2.      Kelemahan dan kekurangan Manusia.
Faktor lainnya yang melatarbelakangi manusia memerlukan agama adalah karena disamping manusia memilki berbagai kesempurnaan juga memiliki kekurangan. Hal ini antara lain diungkapkan oleh kata Al-nafs. Nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna untuk berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan,dan karena itu sisi dalam manusia inilah yang oleh Al-qur’an dianjurkan untuk diberi perhatian lebih besar.
3.      Tantangan Manusia
Faktor lain yang menyebabkan manusia memerlukan agama adalah karena mansia dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik yang datang dari dalam maupun yang datang dari luar.Tantangan dari dalam dapat berupa dorongan hawa nafsu dan bisikan setan. Sedangkan tantangan dari luar berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan manusia yang secara sengaja berupaya untuk memalingkan manusia dari Tuhan.

D.    Studi Agama Sebagai Suatu Disiplin Ilmu Pengetahuan
Menurut Muhammad Abduh, agama merupakan sebuah produk Tuhan. Tuhan juga mengajarkannya kepada umat manusia, dan membimbing manusia untuk menjalankanya. Agama merupakan alat untuk akal dan logika, bagi orang-orang yang ingin kabar gembira dan sedih. agama menurut sebagian orang merupakan sesuatu hal yang menyangkut hati; suatu hal yang sangat berarti; suatu hal  yang menuntun jiwa untuk menemukan keyakinan.
Agama dengan eksistensinya telah membuatnya berbeda dengan segala apa yang pernah ada, membuatnya berbeda dengan dengan segala yang pernah dimiliki manusia. Agama membuat orang melakukan aktifitas yang harus bersesuaian dengan apa yang diajarkannya, baik tuntunan itu berat ataupun ringan. Agama menjadikan kehidupan manusia lebih teratur dalam kehidupannya, karena segala dorongan dan keinginannya menjadi lebih terarah. Agama menjadi pemimpin roh jiwa manusia. Ia juga berperan aktif membimbing manusia untuk memahami ajaran-ajaranya. Diibaratkan seorang manusia layaknya seorang yang berada diujung pedang, jika salah maka orang tersebut mati olehnya, tetapi agama-agama datang sebagai penyelamat. Apapun yang terjadi pada manusia, ia tidak akan bisa terlepas dari agama. Sangat mustahil memisahkan kehidupan manusia dari agama. Seperti halnya menghilangkan luka bekas operasi dari kulit manusia.[9]
Bagi kalangan barat, agama adalah penghalang kemajuan. Oleh karena itu, mereka beranggapan, jika ingin maju maka agama tidak boleh lagi mengatur hal-hal yang berhubungan dengan dunia. Seorang Karl marx mengatakan bahwa agama adalah candu masyarakat, candu merupakan zat yang dapat menimbulkan halusianasi yang membius. Marks mendefinisikan bahwa setiap pemikiran tentang agama dan tuhan sangat berbahaya bagi kehidupan manusia. sebagai seorang materialisme, Marks sama sekali tidak percaya adanya Tuhan dan secara tegas ia ingin memerangi semua agama. Dalam pernyataan Marks, sebenarnya yang dimaksud dengan candu masyarakat merupakan kritik terhadap realitas yang tidak berpihak pada kaum lemah. Misalnya orang yang sedang kelaparan hanya membutuhkan nasi atau sepotong roti untuk mengisi perutnya, bukan membutuhkan siraman rohani ataupun khutbah yang berisikan tentang kesabaran, namun tidak memperdulikan tentang realitas sosial.
Ilmu pengetahuan yang dipahami dalam arti pendek sebagai pengetahuan objektif, tersusun, dan teratur. Ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari agama. Sebut saja al-Quran, al-Quran merupakan sumber intelektualitas dan spiritualitas. Ia merupakan sumber rujukan bagi agama dan segala pengembangan ilmu pengetahuan. Ia merupakan sumber utama inspirasi pandangan orang islam tentang keterpaduan ilmu pengetahuan dan agama. Manusia memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber dan melalui banyak cara dan jalan, tetapi semua pengetahuan pada akhirnya berasal dari Tuhan. Dalam pandangan al-Quran, pengetahuan tentang benda-benda menjadi mungkin karena Tuhan memberikan fasilitas yang dibutuhkan untuk mengetahui.
Para ahli filsafat dan ilmuan muslim berkeyakinan bahwa dalam tindakan berpikir dan mengetahui, akal manusia mendapatkan pencerahan dari Tuhan Yang Maha.[10]
 mengetahui sesuatu yang belum diketahui dan akan diketahui dengan lantaran model dan metode bagaimana memperolehnya.
Al-Quran bukanlah kitab ilmu pengetahuan, tetapi ia memberikan pengetahuan tentang prinsip-prinsip ilmu pengetahuan yang selalu dihubungkan dengan pengetahuan metafisik dan spiritual. Panggilan al-Quran untuk “membaca dengan Nama Tuhanmu” telah dipahami dengan pengertian bahwa pencarian pengetahuan, termasuk didalamnya pengetahuan ilmiah yang didasarkan pada pengetahuan tentang realitas Tuhan. Hal ini dipertegas oleh Ibnu Sina yang menyatakan, Ilmu pengetahuan disebut ilmu pengetahuan yang sejati jika menghubungkan pengetahuan tentang dunia dengan pengetahuan Prinsip Tuhan.
Agama dan ilmu pengetahuan memang berbeda metode yang digunakan, karena masing-masing berbeda fungsinya. Dalam ilmu pengetahuan kita berusaha menemukan makna pengalaman secara lahiriyah, sedangkan dalam agama lebih menekankan pengalaman yang bersifat ruhaniah sehingga menumbuhkan kesadaran dan pengertian keagamaan yang mendalam. Dalam beberapa hal, ini mungkin dapat dideskripsikan oleh ilmu pengetahuan kita, tetapi tidak dapat diukur dan dinyatakan dengan rumus-rumus ilmu pasti. Agama adalah sesuatu yang tidak dapat berubah, bersifat abadi, dan diberikan sekali untuk selamanya sedangkan ilmu pengetahuan sebaliknya.[11]
Sekalipun demikian, ada satu hal yang sudah jelas, bahwa kehidupan jasmani dan rohani tetap dikuasai oleh satu tata aturan hukum yang universal. Ini berarti, baik agama maupun ilmu pengetahuan, yaitu Allah. Keduanya saling melengkapi dan membantu manusia dalam bidangnya masing-masing dengan caranya sendiri.
Fungsi agama dan ilmu pengetahuan dapat dikiaskan seperti hubungan mata dan mikroskop. Mikroskop telah membantu indera mata kita yang terbatas, sehingga dapat melihat bakteri-bakteri yang terlalu kecil untuk dilihat oleh mata telanjang. Demikian pula benda langit yang sangat kecil dilihat dengan mata telanjang, ini bisa dibantu dengan teleskop karena terlalu jauh. Demikian halnya dengan wahyu Ilahi, telah membantu akal untuk memecahkan masalah-masalah rumit yang diamati oleh indera.
Dengan mengetahui begitu pentingnya studi agama untuk memahami agama-agama yang diteliti secara ilmiah, sebagaimana yang dikatakan Joachim wach: it should be clear that the central concern of religionswiienschaft must be the understanding of other religions. Karena studi agama dapat memberikan kontribusi bagi pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Di dalam doktrin agama, terdapat beberapa landasan yang menunjukan, bahwa disamping ada kebenaran yang muthlak yang langsung dari Allah swt. diakui pula eksistensi kebenaran relatif yang merupakan hasil usaha pencapaian budaya manusia, seperti: kebenaran spekulatif filsafat dan kebenaran positif ilmu pengetahuan serta kebenaran pengetahuan biasa di dalam kehidupan sehari-hari.


[1] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: Universitas indonesia press, 1977), hal. 9
[2] Baharuddin dan Buyung Ali Sihombing, Metode Studi Islam, (Bandung: Ciptapustaka Media,2005), hal. 9
[3]Ali Anwar Yusuf, Studi Agama Islam, ( Bandung: CV. Pustaka Setia, 2003), hal. 17-19.
[4]Seyyed Hossein Nasr, Tiga Madzhab Utama Filsafat Islam, (Jakarta: Raja Grafindo, 2004), hal. 80-82.
[5] Baharuddin dan Buyung Ali Sihombing, Op.Cit, hal. 19.
[6] Ibid.,
[7] Ibid,.
[8] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hal.16-25.
[9]Muhammad Abduh, Islam; Ilmu Pengetahuan dan Msyarakat Madani, (Jakarta: Raja Grafindo, 2004) hal.4
[10]Amtsal Bakhtiar,  Filsafat Ilmu, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), hal.230-231
[11]Burhanudin Daya, Ilmu Perbandingan Agaman di Indonesia dan Belanda, (Jakarta: INIS,1992), hlm. 14

2 komentar: